AWAS VIRUS SINGAPURA MENYERANG ANAK - ANAK

Penyakit mulut, kaki, dan tangan atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HMFD), atau masyarakat menyebutnya dengan virus Singapura sering ditemui pada anak dan bayi. Sesungguhnya virus Singapura bukan berasal dari Negara Singapura seperti yang banyak diduga orang. Melainkan penyakit ini sebenarnya sudah lama ada, namun kembali berjangkit dan menjadi pandemik di Singapura. Oleh karena itulah penyakit ini dijuluki dengan nama virus Singapura.
Gejala awal anak yang terjangkit virus Singapura adalah demam, kemudian diikuti dengan gejala lain seperti sariawan di rongga mulut, gusi, dan pipi bagian dalam dengan jumlah yang cukup banyak. Selain itu, muncul bintil-bintil kecil mirip dengan cacar yang muncul di telapak tangan dan telapak kaki. Bintil ini terkadang juga muncul di bokong, dan mudah pecah. Anak yang terserang juga akan merasakan ngilu dan nyeri pada tangan, kaki dan mulut sehingga terlihat lemas.
Menurut dr Tanti Yohana dari Rumah Sakit Dr Oen Surakarta, anak-anak yang terkena virus Singapura biasanya malas makan dan minum karena rasa nyeri dalam mulut akibat sariawan. Suhu badan juga naik tinggi hingga 39 derajat Celcius. Sehingga perlu diwaspadai jika anak mengalami kekurangan cairan (dehidrasi) akibat demam.
“Virus coxsackie, picornaviriday dan enterovirus 71 adalah beberapa jenis virus penebar benih penyakit ini. Virus ini mudah sekali bermutasi dan menular saat musim peralihan atau pancaroba, selain juga faktor kepadatan penduduk dan mobilitas, seperti saat ini,” papar Tanti, sapaannya.
Penyakit virus Singapura memang bukan termasuk kategori penyakit berbahaya. Dari sejumlah kasus yang ada, penderita akan dapat kembali sehat seperti semula setelah menjalani perawatan. Tapi karena virus ini begitu mudah menular di kalangan anak-anak, tentu saja hal tersebut mudah memancing kepanikan orangtua.
Tanti mengungkapkan, beberapa minggu ini angka anak yang menderita virus Singapura terutama yang ditangani di rumah sakitnya cenderung mengalami peningkatan. Dia menduga, musim pancaroba menjadi faktor penyebab, selain juga karena daya tahan tubuh si anak yang kurang baik. “Tak hanya itu, gejala bintil-bintil yang muncul di tangan dan kaki juga menjadi lebih parah dari biasanya. Karena beberapa pasien yang saya tangani, bintil yang terjadi menyebar hingga tungkai dan lengan,” ujar dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta ini.
Virus penyebab penyakit sangat mudah menular pada orang lain di sekitar penderita. Penularan biasanya melalui kontak langsung yakni lewat bersin, pilek, air liur, cairan yang keluar dari bintil, atau melalui perkakas yang digunakan penderita seperti handuk, baju, ataupun celana. Sehingga sangat disarankan untuk anak yang menderita penyakit ini terutama yang sudah duduk di bangku sekolah untuk sementara waktu menghindari kontak dengan teman-temannya agar virus tak menyebar.
“Masyarakat tidak perlu panik dan jika memang diketahui anaknya mengidap gejala penyakit ini sebaiknya segera menjalani perawatan dan tidak bersekolah untuk mencegah penularan ke anak lain,” imbaunya.
Masa inkubasi penyakit berkisar antara tiga hingga empat hari. Dari kasus yang sudah ditemui biasanya penderita akan sembuh dalam waktu tujuh sampai 10 hari, itu pun jika si anak dalam kondisi tubuh yang baik.
Belum Ada Obatnya
Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk menangani virus penyebab penyakit tangan, kaki dan mulut. Sehingga, pengobatan yang dilakukan hanya berupa pengobatan simptomatis, yaitu mengobati gejala yang timbul. Misalnya, pada demam dan sakit kepala diberi obat pereda demam (paracetamol) dan pereda nyeri. Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, dokter mungkin akan memberikan antibiotik.
“Penyakit ini bertipe self limiting diseases, yaitu dapat sembuh dengan sendirinya. Pasien hanya perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang memerlukan rawat inap di rumah sakit hanya dengan gejala berat dan komplikasi,” kata wanita asli Jakarta ini.
Meski belum ada obatnya, keadaan umum anak yang menderita harus tetap dijaga. Diusahakan tetap makan dan minum karena dapat berperan dalam proses penyembuhan. Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik.
Pencegahan penyakit ini adalah dengan mengilangkan kekumuhan dan kepadatan lingkungan, serta memperhatikan kebersihan (hygiene dan sanitasi) lingkungan maupun perorangan.
Cara yang paling gampang dilakukan, menurut Tanti, adalah membiasakan selalu cuci tangan, khususnya sehabis berdekatan dengan penderita, atau membersihkan peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi dengan disinfektan (bahan kimia pencegah infeksi). (Ikrob Didik Irawan)

0 komentar:

Poskan Komentar